
Blurb:
Aku
menemukan sebuah buku di rumah sakit. Judulnya Cerita Teman si Sakit.
Pemiliknya adalah Yamauchi Sakura, teman sekelasku. Dari sana aku tahu dia
menderita penyakit pankreas. Buku itu adalah buku harian rahasia miliknya.
Namun
gadis itu tidak seperti orang sakit. Dia seenaknya sendiri, dia mempermainkan
perasaanku, dia suka menggodaku. Dan dia... mungkin dia mulai menarik hatiku.
Identitas Buku:
- Judul: I Want to Eat Your Pancreas
- Penulis: Sumino Yoru
- Penerjemah: Khairun Nisak
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tebal Buku: 308 halaman
- Tahun Terbit: Maret, 2017
- ISBN: 978-602-6383-14-3
Sinopsis:
Ceritanya
bermula ketika si ‘aku’ tak sengaja menemukan buku yang tergeletak di koridor rumah
sakit. Ia penasaran, ‘aku’ pun mengambilnya dan memberanikan diri untuk
membukanya. Judul aneh muncul di halaman pertama, “Cerita Teman si Sakit”. Perasaan aneh pun mulai mendatanginya,
namun ia tetap membaca kelanjutannya. Ia terkejut setelah menyadari jika yang
ia baca bukanlah buku novel fiksi, melainkan catatan harian seseorang yang
sekarat karena penyakit pankreas yang mematikan dan disana pun tertulis jelas
jika pemilik buku itu akan mati dalam waktu dekat.
Tak
cukup sampai disitu, ‘aku’ pun lebih terkejut ketika orang yang datang untuk
mengambil buku itu adalah teman sekelasnya.
Bukan teman yang saling akrab satu sama lain, namun hanya sebatas tahu.
Lalu, bagaimana kisah si ‘aku’ dan pemilik buku “Cerita Teman si Sakit” ini berlanjut?
Ulasan:
Aku
mau makan pankreasmu
“Nilai
suatu hari bagi setiap orang itu sama. Jadi tidak peduli apa yang sudah
kulakukan, yang jelas hari-hariku tidak akan bedanya dengan hari-harimu.” (hal. 15)
“Kalau
aku mengatakan bahwa sebenarnya aku benar-benar takut mati, apa yang akan kau
lakukan?” (hal. 137)
“Pasti
tentang saling memahami perasaan dengan seseorang. Itulah yang disebut
kehidupan.” (hal. 213)
Ini pertama kalinya saya membaca sebuah novel Sastra
Jepang, mungkin tidak benar-benar pertama kalinya. Saya pernah membaca hasil terjemahan
penggemar dari sebuah novel ringan bertemakan aksi petualangan, itupun
berbentuk digital. Jadi ini kali pertama saya membaca buku fisik dari novel
Sastra Jepang terjemahan.
Saya cukup terkesan dengan kualitas terjemahan dari
penerbit resmi ini, semuanya mudah dibaca tanpa adanya misterjemahan. Berbeda
dengan terjemahan penggemar yang kaku dan sesekali terdapat misterjemahan.
Cukup dengan perbandingan hasil terjemahan.
Novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang
pertama yaitu tokoh “Aku”, seorang pemuda introvert yang namanya baru terungkap
diakhir. Alur cerita dari awal hingga menuju akhir sepi dengan konflik, ini
yang menyebabkan alurnya berjalan lambat dan sedikit membosankan. Namun yang
membuat saya betah dan merasa terhibur adalah interaksi karakter dua tokoh
utama dalam cerita ini. Pemuda introvert yang gagap berkomunikasi, pasif,
pengamat dan pemikir bertemu dengan gadis ekstrovert yang selalu riang. Pemuda
introvert ini hampir tak pernah menolak permintaan gadis si sakit, ini yang
membuat saya gemas.
Percakapan yang disajikan dalam novel ini pun cukup
unik untuk ukuran pelajar SMA. Pelajar SMA yang biasanya berdialog mengenai
pelajaran, teman, guru ataupun percintaan, namun kedua tokoh utama dalam cerita
ini lebih senang membicarakan masalah kehidupan dan kematian. Sebuah
pembicaraan yang biasa dibicarakan ketika seseorang sudah tidak memiliki tujuan
untuk hidup. Mungkin karena protagonis perempuan yang meceritakan penyakit dan
nyawanya yang sedang di ujung tanduk membuat percakapan tidak biasa ini
terjadi.
Lelucon yang dilontarkan dalam cerita ini juga ada
beberapa yang saya tidak mengerti karena pepatah atau majas Jepang, meskipun
dilengkapi dengan catatan kaki, membuat leluconnya sedikit tidak lucu dan
‘garing’. Mungkin saya yang kurang banyak membaca Sastra Jepang jadi tidak
terlalu paham pepatah dan majasnya.
Saya tidak benar-benar ‘buta’ ketika membaca novel ini
karena bocoran bertebaran di media sosial dan juga novel ini sudah diangkat
menjadi anime film dan live action meskipun saya belum pernah menontonnya. Saya
benar-benar menikmati waktu sendiri saya ketika membaca novel terjemahan ini.
Saat saya pikir alur ceritanya sesuai dengan yang ada
di kepala saya meski dengan bocoran yang sedikit saya ingat dan petunjuk yang
disediakan dalam bab-bab awal, ternyata semua alur yang berada di kepala saya
dipatahkan. Pelintiran cerita yang tak terduga datang, alasan mengapa nama
protagonis dirahasiakan akhirnya diungkap di akhir cerita.
Kisah ini mengingatkan kita tentang kematian yang
bersifat pasti, kapan pun bisa menjemput tanpa memandang orang, juga bahwa
sebagai manusia kita selalu membutuhkan orang lain dan ingin merasa dibutuhkan.
Novel remaja yang tidak terlalu berfokus pada romansa tokoh utamanya, novel
remaja yang berbeda dengan novel remaja lainnya, novel remaja yang unik karena
karakternya sering membicarakan tentang kehidupan dan kematian. I Want to Eat Your Pancreas adalah novel
remaja yang tak sekadar menghibur tapi sarat pesan kehidupan.
Sekian dari saya, terima kasih banyak telah membaca.
Sampai jumpa lagi.
Salam hangat
WibuSampah
0 Comments