Berkisah tentang
gadis kecil bernama Emily dibunuh di sebuah desa yang tenah pada 15 tahun lalu.
Empat anak perempuan yang waktu itu sedang bermain bersama Emily tidak bisa
memberikan kesaksian yang berarti padahal mereka berjumpa dengan pelakunya. Akibatnya,
penyelidikan pun macet.
Ibu mendiang
Emily tidak terima, memanggil keempat anak tersebut, kemudian mengancam mereka,
“Temukan pelakunya sebelum kasusnya kedaluarsa, atau ganti rugi dengan cara
yang bisa kuterima. Jika tidak, aku akan membalas dendam kepada kalian.”
Keempat anak itu
menanggung bebas luar biasa besar di pundak mereka ketika tumbuh dewasa, tragedi
demi tragedi pun terjadi secara beruntun....
Minato Kanae-sensei
kembali membuat diri ini kaget luar biasa dengan ceritanya. Kisah yang kompleks
dibagi menjadi 6 bagian dengan 5 bagian menggunakan sudut pandang masing-masing
tokoh dan 1 bab akhir dengan sudut pandang orang pertama.
Perkembangan
karakter dalam Penance luar biasa edan. Terkekang “janji” selama 15
tahun, kembali terjerat kasus yang meningatkan pada tragedi 15 tahun lalu
hingga hilang arah, dan dihidupkan kembali dengan luar biasa.
Yang menjadi
perhatian saya di sini kenapa ibu Emily bersikeras menyalahkan keempat anak itu
hingga mengeluarkan kalimat yang sangat menohok. Perasaan seorang ibu ketika
kehilangan anaknya sebab dibunuh dan pembunuhnya belum terungkap mungkin belum
bisa saya pahami, tapi tidak seharusnya seorang ibu mengucapkan hal seperti
itu.
Kebenaran mulai
terungkap seiring cerita berjalan dengan keempat sudut pandang saksi dan sudut
pandang ibu Emily. Kebenaran yang tidak bisa menyalahkan hal itu kepada mereka.
Kebenaran yang membuat dia menanggung dosa keempat anak itu.
Hal psikologis
yang dibawakan dalam cerita lebih dominan daripada misteri pembunuh Emily.
Dimana PTSD keempat anak yang bersangkutan beserta ibu korban memengaruhi hidup
mereka. Rasa trauma, takut, bahkan untuk percaya kepada orang lain merupakan
hambatan yang terus mereka hadapi.
Penance adalah
cerita yang tiap bagiannya berisi twist yang menggelikan, mengerikan,
sekaligus mendorong pembaca agar tidak berhenti meninggalkan buku ini tanpa
selesai sampai akhir. Juga berisi akhir cerita yang bisa membuat diri ini tidak
bisa berkata-kata.
Sebagai penutup,
saya rasa Penance tidak seintens Confessions, bukan berarti lebih
buruk. Hanya saja, seperti ada bumbu yang kurang dari Penance, tapi saya
tidak tahu apa itu.
Terima kasih
telah membaca.
Salam hangat,
WibuSampah
0 Comments