[Movie Review] Suzume no Tojimari


Sinopsis

Suzume, seorang gadis berusia 17 tahun yang tinggal di sebuah kota yang tenang di Kyushu, bertemu seorang pemuda pengembara yang berkata kepadanya, "Saya mencari sebuah pintu." Dia mengikutinya dan mendapati sebuah pintu yang sudah lapuk di reruntuhan di pegunungan, seakan-akan pintu itu satu-satunya yang masih tersisa dari reruntuhan. Seolah-olah ditarik oleh sesuatu, Suzume meraih pintu itu...

Tak berselang lama, pintu-pintu mulai terbuka satu demi satu di berbagai penjuru Jepang. Karena bencana datang dari sisi yang jauh dari pintu, pintu yang terbuka harus ditutup.

Bintang-bintang, matahari terbenam, dan langit pagi-di tempat yang ia masuki, ada langit yang tampak menyatu dengan waktu. Dipandu oleh pintu-pintu misterius, "perjalanan mengunci pintu" Suzume pun dimulai.

 

Ulasan

Makoto Shinkai kembali dengan karya bertajuk Suzume no Tojimari yang memiliki format yang mirip dengan karya Tenki no Ko dan Kimi no Na wa miliknya. Bagaimana Makoto Shinkai selalu menanggapi suatu peristiwa alam dengan cara yang unik. Kendati menggunakan format yang mirip, cerita dalam film ini tergolong segar dari karya Makoto Shinkai lainnya.

Suzume no Tojimari meninggalkan kesan yang cukup memuaskan dari awal hingga akhir film juga dari berbagai aspek. Mulai dari penyusunan cerita, visual, hingga skoring musiknya di buat megah dan elegan.

Kisah mengambil peristiwa gempa Tohoku sebagai basis awal perkembagan cerita, menggambarkan trauma anak-anak korban gempa yang kehilangan orang tuanya melalui karakter Suzume.

Penyusunan cerita yang rapi ala Makoto Shinkai masih menjadi senjata yang ampuh untuk menghibur penonton. Konflik intens dengan pembawaan yang ringan juga komedi hangat yang diselipkan membuat emosi penonton terombang-ambing saat menoton film ini.

Meski penyusunannya rapi, ceritanya terasa terburu-buru. Hal ini yang menyebabkan beberapa bagian yang seharusnya bisa digali lebih jauh menjadi sebuah plot hole dalam cerita.

Hal seperti kepergian ibu Suzume, latar belakang bibi Suzume, mengapa kursi kecil kakinya hanya tiga, serta kemunculan tiba-tiba Sadaijin yang tidak dijelaskan menjadi tanda tanya besar dalam film ini.

Satu-satunya karakter yang dijelaskan dengan jelas adalah Suzume dan Souta. Karakter lain tetap membosankan tanpa penjelasan latar belakang. Hal ini membuat hubungan dan konflik Suzume dengan bibinya terasa sedikit kurang pedih.

Perjalanan Suzume ke berbagai tempat dan pertemuan dengan banyak orang terasa hangat dan nyata. Setiap kali dia menghadapi kesulitan, orang yang berbeda membantunya di setiap tempat yang dia kunjungi.

Presentasi Visual luar biasa dari CoMix Wave tetap menjadi andalan untuk memanjakan mata penonton. Detail visual dari lingkungan dan interaksi karakter masih mengesankan. Pemandangan yang ditampilkan masih terlihat sangat hidup.

Kok ada kata “masih”? Secara visual film ini memang dirasa tidak ada peningkatan impresif dengan film Makoto Shinkai sebelumnya, bahkan bisa dibilang tidak ada perbedaan yang signifikan.

Terlepas dari itu, skoring musiknya menjadi juara di film ini, terasa megah dan menggelegar. Detail suara seperti air mengalir, rerumputan melambai, petir, hujan, lantai keramik, dan suara-suara lainnya benar-benar memanjakan telinga. Suara-suara seperti inilah yang membuat film ini hidup.

 

Kesimpulan

Akhir yang bisa diambil adalah Suzume no Tojimari adalah karya Makoto Shinkai yang harus ditonton terlepas dari apapun kekurangannya. Suzume no Tojimari memberikan kehangatan tersendiri dalam interaksi antar karakternya. Suzume no Tojimari juga kembali memanjakan fans Makoto Shinkai akan cerita dan visual yang diberikan.

Suzume no Tojimari, skor objektif pribari 7.8 / 10.

 

Salam hangat

Wibusampah

Post a Comment

0 Comments